CERPEN "SAYAP PELINDUNG ELLIA".

 Masa SMA seharusnya menjadi masa paling indah yang akan dikenang hingga hari tua nanti, namun tidak untuk Ellia. Ia justru merasa masa SMA adalah masa mimpi buruk, bahkan sangat buruk yang dia sendiri tidak pernah bayangkan sebelumnya. Ia merasa sangat jatuh terpuruk dan tidak siap untuk menjalani realita kehidupan dirinya sekarang. Ellia sangat memerlukan sosok yang mempedulikan dirinya disaat-saat seperti ini, namun ia  justru mendapat hinaan,caci maki, cercaan, gunjingan  yang membuat Ellia semakin terpuruk.

Bukan tanpa sebab dirinya menjadi seperti ini, seminggu lalu menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Ellia mendapati kabar buruk bahwa ayahnya, yang merupakan seorang anggota parlemen pemerintahan terjerat kasus tindak pidana korupsi dan penyuapan. Ayah Ellia diputuskan sebagai tersangka dan ditahan oleh KPK setelah sidang. KPK juga menyita semua harta dan aset keluarga Ellia untuk membayar kerugian negara atas tindakan yang dilakukan ayahnya. 

Sekarang, Ellia yang terkenal dengan gayanya yang bak menyaingi artis papan atas hingga dirinya selalu menjadi pusat perhatian di sekolahnya, kini keadaan sudah berbanding terbalik dengan sebelumnya. Ellia dan ibunya kini hanya tinggal di sebuah kontrakan sederhana, minimalis dan tidak ada fasilitas-fasilitas mewah seperti dulu. Bahkan, ibunya memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri menjadi TKW untuk dapat menghidupi keluarganya. Hal ini menjadi pukulan yang keras bagi Ellia. Sekarang Ellia hanya hidup seorang diri dan meratapi keadaan dan terus berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan bukan kenyataan.


***





***

Hari Senin telah tiba, Ellia sudah tidak masuk sekolah selama seminggu. Kini ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya kembali disekolahan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kini ia merasa sangat tidak nyaman, malu akan semua yang terjadi belakangan ini. Di sekolah, ia menjadi perhatian dari teman-temannya, bukan perhatian peduli ataupun iba dengan keadaannya, namun perhatian mereka kini seperti tatapan mengejek menghina dirinya. Bahkan banya dari mereka yang tak segan melontarkan kata-kata kasar untuk menggunjing Ellia.

Namun, masih ada satu orang yang masih peduli dengannya, yaitu Lara. Lara adalah murid yang selalu dimusuhi oleh Ellia selama ini. Karena Ellia tidak suka dan iri  atas kepintaran dan kecerdasan Lara. Melihat bahwa Lara ternyata satu-satunya orang yang masih peduli dengannya, hati Ellia menjadi tersentuh dan sedikit menerima kehadiran Lara sebagai temannya.

Waktu berjalan, kini sudah sebulan dari kasus kejadian penangkapan ayah Ellia. Dan tepat hari ini pula adalah hari persidangan putusan pengadilan. Ellia hadir dalam persidangan, ia datang sendirian tidak ada yang peduli dan menemani dirinya. Sidang dimulai, putusan dari pengadilan bahwa Ayah Ellia dijatuhi hukuman penjara dan denda penyitaan seluruh aset yang dimiliki. Mendengar hal ini Ellia remuk redam, tidak bisa berkata-kata dan hanya terdiam hingga persidangan selesai. Persidangan telah usai, Ellia pulang berjalan kaki, ia melamun dan menahan tangisnya agar tidak tumpah membasahi pipinya. Ditengah lamunannya, ia dikejutkan oleh klakson mobil, yang ternyata adalah Lara. Lara menghampiri Ellia dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil untuk mengantarkannya pulang. 

Dalam perjalanan, suasana sunyi. Lara tak berani untuk angkat bicara. Sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai dirumah Lara. Ia sengaja membawa Ellia kerumahnya untuk semantara tinggal bersamanya, karena ia tak mau Ellia sendirian dirumah, dan Lara khawatir Ellia dapat membahayakan nyawanya sendiri. Seperti beberapa hari yang lalu, Lara memergoki Ellia hendak membahayakan nyawanya. Lara meminta Ellia untuk turun dan ia arahkan masuk ke kamarnya. Lara memberi Ellia minum agar sedikit tenang, dan Lara mulai berani angkat bicara. Ia memeluk erat Ellia dan menguatkannya. Akhirnya Ellia juga membalas pelukan Lara dan mulai mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini ia pendam sendiri. Sambil menangis Ellia terus bercerita dalam pelukan Lara. Tak ada yang menyangka kini mereka saling dekat dan saling menguatkan.



***

Keesokan harinya, tiba-tiba Lara melihat Ellia duduk di taman belakang rumahnya sambil melamun. Lara menghampiri Ellia, lantas Ellia memeluk Lara, ia menangis sambil meminta maaf pada Lara atas kesalahannya selama ini, atas semua hal kebencian yang telah ia lakukan pada Lara. Lara terkejut mendengarnya, namun ia telah memaafkan semua kesalahan Ellia, lagipula dia tidak masalah selagi semua tidak mengarah ke hal yang keterlaluan. Kini Ellia dan Lara telah berbaikan dan saling memaafkan. Ellia juga berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi, dan ia meminta agar Lara mau menjadi temannya, bahkan sahabat untuknya yang akan selalu menguatkan dirinya disaat-saat terpuruk dalam hidupnya. Lara tersenyum menandakan setuju dengan permintaan Ellia.

Waktu tak terasa sangat cepat berjalan, sudah tiga bulan ia kembali bersekolah dengan berbagai macam gunjingan datang kepadanya, meskipun sangat sakit, namun sekarang ia merasa lebih tenang dan lebih kuat karena ada penopang dalam dirinya, yaitu Lara sahabatnya. Selama bersahabat dengan Lara, sifat Ellia semakin hari semakin berubah menjadi lebih baik. Bahkan kini dirinya juga mulai bisa mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran. Lara selalu mengajarkan pelajaran kepada Ellia, seperti seorang guru pribadi untuknya. Kini Ellia mulai mengukir prestasi dan semakin hari ia semakin rajin untuk belajar bersama Lara.

Sudah hampir dua tahun Ellia dan Lara bersahabat baik, kini keduanya duduk di bangku kelas 12. Tak lama lagi mereka akan lulus dari SMA dan akan melanjutkan pendidikan sesuai keinginan masing-masing. Ellia dan Lara merasa sangat sedih, karena waktu berjalan terasa sangat cepat. Hingga kini keduanya saling disibukkan dengan try out, ujian sekolah, ujian praktek,latihan tes masuk perguruan tinggi hingga bimbel. Keduanya hampir tidak ada waktu untuk hanya sekedar hangout bersama. Sudah tak seperti dulu lagi, yang mereka bisa menghabiskan waktu weekend mereka bersama. 

Hari yang paling ditakutkan dan ditunggu telah tiba, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan kelas 12 serta juga hari pelepasan siswa siswi. Dan semua murid dinyatakan lulus termasuk Ellia dan Lara. Mereka sangat bahagia mendengar berita ini, bahkan nilai mereka juga menjadi nilai yang bagus diantara teman seangkatan lainnya. Mereka mengikuti serangkaian kegiatan pelepasan ini dengan haru biru, saling berpelukan dan saling melepas satu sama lain untuk melangkahkan kaki menuju cita-cita masing-masing. 


***

Kringggg...kringgggg. Dering ponsel Ellia membangunkannya. Ternyata telefon dari Lara. Kemudian Lara bercerita bahwa dirinya diterima di salah satu perguruan tinggi di Prancis. Mendengar hal ini, hati Ellia hancur. Dirinya tidak bisa menahan air matanya. Kini ia menangis karena ia takut akan kehilangan sosok sahabat yang selalu ada untuknya. Lara pun sebenarnya sedih, namun inilah cita-citanya sedari kecil, ingin berkuliah di Prancis. 

Seminggu kemudian, Lara mendatangi rumah Ellia mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Ttok..Tok..Tok.. Assalamualaikum Ellia, Permisiii... Tak lama kemudian Ellia membukakan pintu rumahnya. Dilihatnya seorang wanita dan satu laki-laki. Mereka sangat familiar di ingatan Ellia. Yap betul, itu Lara dan Ayahnya. Kemudian Ellia mempersilahkan mereka masuk. Kemudian Lara memulai pembicaraan, ia meminta izin kepada Ellia untuk dirinya segera berangkat ke Prancis. Hari ini juga Lara akan berangkat. Banyak percakapan dari obrolan mereka, bahkan keduanya terlihat sedih dan meneteskan air mata. Ayah Lara menunggu diluar agar memberikan ruang lebih kepada dua orang itu. Lara meninggalkan beberapa pesan pada Ellia, layaknya seorang ibu kepada anaknya. Tak lupa Lara juga memberikan sebuah barang sebagai kenang-kenangan kepada Ellia.

Hampir satu jam mereka mengobrol. Kini jam menunjukkan pukul 14.30, Lara bergegas pamit pada Ellia. Bahwa sebentar lagi pada pukul 15.30 pesawat nya akan segera berangkat. Mereka saling berpelukan, mereka berjanji akan terus memberikan kabar walau hanya sekedar chat. Dilihatnya Lara mulai memasuki mobil sembari melambaikan tangan padanya. Rasa sedih tak bisa tertampung lagi. Ellia benar benar menangis hingga sesenggukan. Kini Ellia kembali sendiri dan kesepian.

Tiga tahun tak terasa sudah berlalu, Ellia kini sudah berkuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta. Bahkan kini ia sudah dalam tahap semester akhir dan sedang proses membuat skripsi. Saat membuka laptop dirinya hendak mengerjakan skripsi, tiba-tiba laptopnya mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Ellia mengangkat penggilan itu, tak ia sangka-sangka ternyata Lara. Sudah hampir setahun ini mereka tidak pernah berhubungan lagi. Mungkin karena kesibukan masing-masing. Ellia sangat terkejut. Bahkan Lara berkata bahwa ia sudah berada di Jakarta. Dan rencananya akan menemui Ellia nanti malam. 



***

Akhirnya, setelah tiga tahun tak berjumpa. Kini mereka saling berdiri berhadapan. Air mata mulai membasahi pipi Eliia. Sambil memeluk Lara, Ellia berkata bahwa sangat merindukan Lara. Bahkan ia kini sudah banyak berubah. Ellia sudah terlihat lebih dewasa dari tiga tahun lalu mereka terakhir bertemu. Lara kagum dengan diri Ellia yang sekarang. Lara bangga, bahwa sahabatnya bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Mereka menghabiskan waktu malam itu dengan bercerita tentang tiga tahun terakhir yang telah merubah hidup mereka. Kini Ellia kembali merasa sayap pelindung nya hadir kembali dalam hidupnya.



                                            __TAMAT__



Komentar